Globalizing Modest Wear, Debut ETU di Virgin Australia Melbourne Fashion Festival

Modest Fashion Indonesia kembali menunjukkan reputasinya di ajang internasional, kali ini label ETU mempersembahkan koleksinya pada event Virgin Australia Melbourne Fashion Festival.

Industri fashion Indonesia dalam dekade terakhir menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan banyak faktor antara lain kemunculan generasi desainer baru yang memiliki kapasitas, maraknya event-event fashion dengan skala nasional, dan yang penting, fashion menjadi sektor kedua terbesar yang berkontribusi di industri kreatif nasional (data tahun 2015).

Tidak bisa dipungkiri bahwa modest fashion menjadi penggerak dominan pada industri ini, tidak lepas dari Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar dan banyaknya desainer muda kreatif yang berperan di jalur modestwear.

Ini juga menjadi alasan Badan Ekonomi Kreatif menjadikan modest fashion sebagai sektor unggulan dengan visinya menjadikan Indonesia sebagai pusat mode muslim dunia. Di tataran internasional, Indonesia telah menjadi kata kunci utama bila menyangkut modest wear atau busana muslim. Terakhir, di event London Fashion Week yang baru saja berlalu, Indonesia mengirimkan 5 desainer modestwear yang memamerkan karyanya pada International Fashion Showcase. Dan di waktu yang sama, Dian Pelangi juga menggelar fashion show pada ajang Independen bergengsi “Fashion Scout” di London.

ETU x VAMFF

Kini, ETU terpilih untuk mewakili Indonesia di ajang Virgin Australia Melbourne Fashion Festival (VAMFF) pada 7 – 13 Maret 2016 sebagai pemenang dari the ANZ Australia-Indonesia Young Fashion Designer Award yang diumumkan pada event Jakarta Fashion Week 2016 lalu. Bagi label ETU, ini adalah kemunculannya yang ke-tiga di event internasional resmi, setelah pada tahun lalu tampil di runway Mercedes Benz Tokyo Fashion Week, dan yang baru saja, di IFS London Fashion Week.

image etukoleksi ETU pada Mercedes Benz Tokyo Fashion Week 2015

ETU merupakan label utama desainer Restu Anggraini yang terbentuk pada tahun 2014 saat menjadi salah satu desainer generasi ke tiga di Indonesia Fashion Forward, program pengembangan kapasitas desainer dari Jakarta Fashion Week. Sejak awal ETU disiapkan sebagai brand modest wear global, dengan konsep sebagai everyday-working wear sehingga memiliki garis busana dan look yang universal, sehingga lebih mudah diterima pasar internasional. Selain itu ETU juga selalu mengedepankan inovasi melalui pemanfaatan teknologi dalam pengolahan material, sejalan dengan misinya ‘sustainable future through innovation‘.

Brand image sebagai modest wear yang selalu mengedepankan inovasi ini yang selalu konsisten dibawa oleh ETU pada setiap presentasinya baik di dalam maupun luar negeri. Seperti koleksi A/W 2016 yang akan dibawanya di ajang VAMFF ini, ETU bekerjasama dengan Toray Industries, salah satu perusahaan Jepang dengan spesialisasi pada produk industri berteknologi tinggi di bidang material sintetis-organik, dengan menggunakan material Ultrasuede. Bahan berteknologi tinggi yang dibuat dengan ultra-microfiber untuk menandingi kualitas bahan suede (kulit) asli. Kualitasnya yang luar biasa, baik secara visual maupun teksturnya, menjadikan ultrasuede digunakan oleh desainer ternama dunia selama bertahun-tahun.

Keikutsertaan ETU di VAMFF membawa misi yang lebih besar daripada sekedar memperkenalkan busana muslim Indonesia di Australia. Australia seperti halnya UK merupakan negara dengan komunitas muslim yang cukup besar, dengan lebih dari 500.000 jumlah warga muslim, tetapi tidak memiliki ‘player‘ signifikan di dalam negeri. Sehingga ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi label Indonesia, yang notabene merupakan tetangga dekat bagi Australia. Namun disamping itu, dalam hal mode, negara ini sudah lebih maju daripada Indonesia, sehingga ekspektasi mereka terhadap mode pun tinggi.

Tantangan ini yang dihadapi brand modest wear Indonesia, termasuk ETU. Scaling local brand into regional or global powerhouse, adalah bukan saja tantangan, tetapi juga syarat agar visi bersama Indonesia sebagai pusat modest fashion dunia bisa tercapai.

Membangun brand image yang distingtif dan selalu menyampaikan pesan yang konsisten menjadi prasyarat utama untuk mencapainya. Sejak ‘lulus’ dari program IFF, inilah yang selalu ditampilkan ETU dalam shownya. Fokus pada inovasi material untuk menghasilkan rancangan-rancangan modern yang berkelanjutan (sustainable future), misalnya dengan memanfaatkan local wisdom seperti membuat bentuk-bentuk anyaman dan mengaplikasikannya pada desain terbukti telah membawa ETU dilirik dan diminati pasar Internasional. Sebuah competitive advantage yang dimiliki ETU.

etu11 (Medium)

 

Sebagai brand modest wear, tentu saja ETU berkepentingan untuk menunjukkan wajah muslim Indonesia yang positif kepada dunia; damai, kreatif dan solutif dalam menjawab tantangan global. Karena itu, ETU menggandeng Wardah Cosmetics yang memiliki reputasi global sebagai brand kosmetik halal dan endorser halal lifestyle sebagai sponsor utama kegiatan ini. Wardah mempersembahkan sebuah engagement event yang ditujukan bagi komunitas muslim Indonesia dan Australia, bertajuk “Succeeding Together: An Australia-Indonesia Collaboration – presented by Wardah”. Pada event yang baru saja berlangsung ini beberapa desainer Indonesia yaitu ETU, Ria MirandaIKYK x Rumah Ayu, dan Shotistic Shoes berkolaborasi dengan desainer Australia seperti Zulfiye TufaAmalina Aman dan Hijab House melalui trunk show, business workshop dan pop up store. Sebagai sebuah engagement event, program ini diharapkan akan memiliki multiplier effect dan penyampai pesan kepada masyarakat luas, tentang fashion Indonesia dan muslim/halal lifestyle.

etu12Restu Anggraini bersama Wardah Cosmetics dan desainer yang akan mengikuti rangkaian kegiatan di VAMFF

 

Baik komunitas muslim maupun penggemar fashion di Australia bisa melihat langsung produk modest wear Indonesia, yang memiliki keunggulan kompetitif dari segi harga dan kualitas. Sekaligus membuka peluang pemasaran produk-produk tersebut di Australia. Sebaliknya, para desainer muda Indonesia akan mendapatkan feedback, feeling dan pengalaman first hand, tentang bagaimana karakter dan kualitas produk fashion yang dibutuhkan untuk menembus pasar Australia.

Pengalaman dan koneksi langsung ini yang secara akumulatif akan menjadi ‘amunisi’ bagi brand-brand lokal untuk meningkatkan daya saing produknya. Tidak cukup merasa aman berada pada zona nyaman di pasar Indonesia yang sangat besar, tetapi mampu bersaing secara global, terutama dengan opportunity yang dimiliki Indonesia sebagai referensi busana muslim dunia. Menjadi brand yang tersedia dan mampu bersaing di negara lain, tentu saja menjadi kebanggaan setiap warga negara Indonesia yang akan makin mencintai produk dalam negeri.  Seperti yang disampaikan oleh Bapak Triawan Munaf, kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, “Indonesia bukan saja menjadi pasar, player, tetapi juga leader di sektor modest wear”.

ketupatkartini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *